PERBANDINGAN UJI DAYA HAMBAT SABUN YANG BELUM DIPAKAI DAN YANG HABIS DIPAKAI PADA BAKTERI Staphylococcus aureus
Sari
Sabun berguna untuk membersihkan kulit dengan mengangkat kotoran, minyak, dan mikroorganisme sehingga dapat mencegah penyakit. Penyakit infeksi masih menempati urutan teratas penyebab kesakitan dan kematian di negara berkembang, termasuk Indonesia. Yang menyebabkan salah satu infeksi tersebut bakteri Stapylococcus aureus. Bakteri Stapylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang juga saprofit pada kulit manusia. Sabun antibakteri banyak digunakan dalam masyarakat dan sering digunakan berulang.
Pengujian ini untuk mengetahui perbandingan daya hambat bakteri antara sabun baru dan sabun yang sudah dipakaiMetode yang digunakan untuk pengujian antibakteri yaitu metode disc difusion agar dengan menggunakan tiga kontol positif yaitu tetracyclin, eritromicin dan amoxicilin.
Hasil dari pengujian ini sabun yang belum digunakan memiliki daya hambat atau sensitif terhadap bakteri dengan nilai 26 mm dengan kategori sangat kuat. Sedangan sabun yang sudah dipakai tidak memiliki daya hambat lagi..
Teks Lengkap:
PDFReferensi
DAFTAR PUTAKA
Arin, Y. 2009 Isolasi dan penentuan aktivitas antimikrobia Isolat streptomyces terhadap Staphylococcus aureus serta uji bioautografi. skipsi . Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Brahmana, N. S. D., Kardhinata, E. H., & Fauziah, I. (2021). Kemampuan daya hambat beberapa produk sabun cair antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal Ilmiah Biologi UMA (JIBIOMA), 3(2), 73–81. https://doi.org/10.31289/jibioma.v3i2.758.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia.Edisi 4. Jakarta: Depkes RI.
Badan Standarisasi Nasional SNI 06-3532-1994. . Dewan Standar Nasional. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republic Indonesia, Mutu dan Cara Uji Sabun Mandi, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan, Jakarta, 1996.
Gaol, Y. E. L., Erly, E., & Sy, E. (2017). Pola Resistensi Bakteri Aerob pada Ulkus Diabetik Terhadap Beberapa
Huda, M. (2017). Pengaruh madu terhadap pertumbuhan bakteri gram positif (staphylococcus aureus) dan bakteri gram negatif (escherichia coli). Jurnal Analis Kesehatan, 2(2), 250-259.
Antibiotika di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2011-2013. Jurnal
Kesehatan Andalas, 6(1), 164-170.
Ganiswara, G.S. 1995. Farmakoterapi dan Terapi. Edisi 4. Farmakologi dan Fakultas Kedokteran. UI Press : Jakarta.
Griffin, H.D. (1981). Fungal Physiology. New York. John Wiley & Sons, Inc.
Sari, R., & Ferdinan, A. (2017). Pengujian aktivitas antibakteri sabun cair dari ekstrak kulit daun lidahbuaya. Pharmaceutical Sciences & Research, 4(3), 1.
Sharfina, A. F., Sani, R. P., & Advinda, L. (2021). Antibacterial activity test antiseptic soap against Staphylococcus aureus. Prosiding Seminar Nasional Biologi, 1(1), 717–724. DOI: 10.24036/prosemnasbio/vol1/94.
Sulistyo, 1971, Farmakologi dan Terapi, Yogyakarta, EKG.
Tranggono, Retno Iswari dan Fatma Latifah. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
DOI: https://doi.org/10.52161/jiphar.v13i2.1057
Refbacks
- Saat ini tidak ada refbacks.
View My Stats
SEKOLAH TINGGI KESEHATAN AL-FATAH BENGKULU
Mail : Jln. Indragiri Gang 3 Serangkai,Padang Harapan, Kota Bengkulu, Kode Pos : 38224, Indonesia
Telepon : (0736)27508
Fax : (0736)27508
E-mail : jurnalilmiahpharmacy@gmail.com

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License



_1.png)










